Senin, 15 Januari 2018
Tilawah Quran Dalam Keadaan Haidh Haram, Kok Ada Yang Bilang Boleh dan Tidak Apa-apa?
Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pak Ustadz yang dirahmati Allah, saya beberapa kali hadir dalam majelis takllim yang ustadz menjadi nara sumbernya. Cuma tidak sempat bertanya on the spot karena tidak kebagian waktu. Jadi saya mohon izin bertanya di web ustadz saja, semoga berkenan.
Ini terkait dengan masalah baca Quran. Sepanjang yang saya ketahui dan saya sudah diajarkan sejak kecil bahwa kita wanita yang sedang haidh ini haram baca Quran. Namun dari beberapa ceramah yang saya dengar baik langsung di majelis taklim atau di youtube kok beberapa ustadz dan ustadzan ada yang ceramah katanya boleh karena nanti takut kalau tidak baca Al-Quran nanti hafalannya lupa. Padahal seingat saya sejak kecil saya diajarkan kalau lagi haidh tidak boleh baca Quran.
Saya jadi bingung dan mohon kasih saya penjelasan.
Terima kasih,
Wassalam
Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelumnya harus kita tegaskan terlebih dahulu bahwa yang sedang kita bicarakan ini adalah hukum melafadzkan ayat-ayat Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh. Sedangkan menyentuh mushaf Al-Quran ada pembahasannya tersendiri, demikian juga dengan hukum membaca Al-Quran dalam hati tanpa menggerakkan lidah alias membatin dalam hati.
Umumnya para ulama sepakat bahwa wanita yang sedang haidh itu termasuk orang yang sedang berjanabah. Dan orang yang sedang berjanabah memang diharamkan untuk membaca Al-Quran.
Dalil keharamannya ada banyak sekali, di antaranya adalah hadits berikut ini :
لاَ تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ
Janganlah seorang yang sedang haidh atau junub membaca sesuatu dari Al-Quran. (HR. Tirmizy)
Janganlah seorang yang sedang haidh atau junub membaca sesuatu dari Al-Quran. (HR. Tirmizy)
Dan juga ada hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu berikut ini :
عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: «كَانَ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – لَا يَمْنَعُهُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلَّا الْجَنَابَةُ
Dari Ali bin Abi thalib bahwa Rasulullah SAW tidak pernah terhalang dari membaca Al-Quran kecuali janabah.(HR. Ahmad)
Dari Ali bin Abi thalib bahwa Rasulullah SAW tidak pernah terhalang dari membaca Al-Quran kecuali janabah.(HR. Ahmad)
Selain itu juga berdasarkan perbuatan dan perkataan Rasulullah SAW ketika usai membaca suatu ayat Al-Quran, beliau mengatakan sebagai berikut :
هذا لمن ليس جنباً أمَّا الجنب فلا ولا آية
Membaca Al-Quran dibolehkan untuk yang tidak berjanabah, sedangkan yang sedang berjanabah, maka tidak boleh walaupun hanya baca satu ayat. (HR. Ahmad)
Membaca Al-Quran dibolehkan untuk yang tidak berjanabah, sedangkan yang sedang berjanabah, maka tidak boleh walaupun hanya baca satu ayat. (HR. Ahmad)
Dengan sekian banyak hadits di atas, maka nyaris hampir seluruh ulama dan mujtahid di empat mazhab utama sepakat mengharamkan wanita yang sedang haidh untuk membaca Al-Quran secara lisan. Kalau pun ada yang membolehkan, sebenarnya tidak bisa dipungkiri, namun sebenarnya ijtihad semacam itu di kalangan ulama salaf sendiri tidak banyak pendukungnya, yaitu hanya sebagian ulama mazhab Maliki saja. Dan yang tegas-tegas bilang halal cuma satu yaitu Ibnu Hazm sebagai representasi dari mazhab Azh-Zhahiriyah. Kalau mazhab ini memang selamanya selalu berbeda. (baca : Ibnu Hazm Dan Beberapa Pendapat Kocaknya)
Berikut ini adalah rincian dan kutipan dari berbagai kitab fiqih yang muktamad terkait dengan masalah ini :
A. Mazhab Al-Hanafiyah
1. Kitab Al-Mabsuth
As-Sarakhsi (w. 483 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :
وَلَيْسَ لِلْحَائِضِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَلَا دُخُولُ الْمَسْجِدِ وَلَا قِرَاءَةُ آيَةٍ تَامَّةٍ مِنْ الْقُرْآنِ،
Tidaklah seseorang yang haid boleh memegang mushaf, dan tidak pula masuk masjid, serta tidak diperbolehkan membaca satu ayat Al-Qur’an dengan sempurna.[1]
Tidaklah seseorang yang haid boleh memegang mushaf, dan tidak pula masuk masjid, serta tidak diperbolehkan membaca satu ayat Al-Qur’an dengan sempurna.[1]
2. Kitab Badai’ Ash-Shanai’
Al-Kasani (w. 587 H) menuliskan di dalam kitabnya Badai Ash-Shanai fi Tartib Asy-Syarai’ sebagai berikut :
(وَأَمَّا) حُكْمُ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ فَمَنْعُ جَوَازِ الصَّلَاةِ، وَالصَّوْمِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَمَسِّ الْمُصْحَفِ إلَّا بِغِلَافٍ، وَدُخُولِ الْمَسْجِدِ، وَالطَّوَافِ بِالْبَيْتِ
Adapun hukum wanita haid dan nifas maka tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf tanpa sampul, masuk masjid, dan thawaf di baitullah [2]
Adapun hukum wanita haid dan nifas maka tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf tanpa sampul, masuk masjid, dan thawaf di baitullah [2]
3. Syarah Fath Al-Qadir
Ibnul Humam (w. 681 H) menuliskan di dalam kitabnya Syarah Fath Al-Qadir sebagai berikut :
(وليس للحائض والجنب والنفساء قراءة القرآن) لقوله – عليه الصلاة والسلام – «لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن»
Dan tidaklah wanita haid, junub, dan nifas membaca al-Qur’an. Dikarenakan sabda Rasulullah: “Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca al-Qur’an. [3]
Dan tidaklah wanita haid, junub, dan nifas membaca al-Qur’an. Dikarenakan sabda Rasulullah: “Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca al-Qur’an. [3]
4. Kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq
Az-Zaila’i (w. 743 H) menuliskan di dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :
قال – رحمه الله – (وقراءة القرآن) أي يمنع الحيض قراءة القرآن، وكذا الجنابة
Seseorang yang haid dilarang membaca al-qur’an begitu juga dengan junub. [4]
Seseorang yang haid dilarang membaca al-qur’an begitu juga dengan junub. [4]
B. Mazhab Al-Malikiyah
Ibnu Rusyd (w 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menuslikan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, khususnya mazhab Maliki yang membolehkan dengan syarat dan alasan tertentu.
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ لِلْجُنُبِ : اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ: فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى مَنْعِ ذَلِكَ، وَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى إِبَاحَتِهِ، وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ الِاحْتِمَالُ الْمُتَطَرِّقُ إِلَى حَدِيثِ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: «كَانَ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – لَا يَمْنَعُهُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلَّا الْجَنَابَةُ»
Membaca Al-Quran bagi yang berjanabah : orang-orang berbeda pendapat dalam masalah ini. Jumhur ulama mengharamkannya, namun ada sebagian yang membolehkannya. Penyebabnya karena adanya perbedaan pandangan dalam hadits Ali : bahwa Rasulullah SAW tidak pernah terhalangi dari membaca Al-Quran kecuali janabah.
Membaca Al-Quran bagi yang berjanabah : orang-orang berbeda pendapat dalam masalah ini. Jumhur ulama mengharamkannya, namun ada sebagian yang membolehkannya. Penyebabnya karena adanya perbedaan pandangan dalam hadits Ali : bahwa Rasulullah SAW tidak pernah terhalangi dari membaca Al-Quran kecuali janabah.
وَقَوْمٌ جَعَلُوا الْحَائِضَ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ بِمَنْزِلَةِ الْجُنُبِ، وَقَوْمٌ فَرَّقُوا بَيْنَهُمَا، فَأَجَازُوا لِلْحَائِضِ الْقِرَاءَةَ الْقَلِيلَةَ اسْتِحْسَانًا؛ لِطُولِ مَقَامِهَا حَائِضًا، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ
Sebagian kalangan mengatakan bahwa haidh itu termasuk ke dalam status janabah, namun sebagian kalangan lain membedakan antara keduanya. Maka mereka pun membolehkan bagi wanita haidh untuk membaca Quran tapi sedikit saja dengan dasar istihsan. Dan mengingat bahwa haidh itu cukup panjang waktunya. Dan itu adalah pendapat mazhab Maliki. [5]
Sebagian kalangan mengatakan bahwa haidh itu termasuk ke dalam status janabah, namun sebagian kalangan lain membedakan antara keduanya. Maka mereka pun membolehkan bagi wanita haidh untuk membaca Quran tapi sedikit saja dengan dasar istihsan. Dan mengingat bahwa haidh itu cukup panjang waktunya. Dan itu adalah pendapat mazhab Maliki. [5]
C. Mazhab Asy-Syafi’iyah
1. Kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab
An-Nawawi (w. 676 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :
في مذاهب العلماء في قراءة الحائض القرآن قد ذكرنا أنّ مذهبنا المشهور تحريمها ولا ينسى غالبا في هذا القدر ولأنّ خوف النّسيان ينتفي بإمرار القرآن على القلب …
Pendapat para ulama mengenai hukum wanita haid membaca al-Qur’an adalah haram…..Masa haid yang berangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Dan jika tetap khawatir lupa pada hafalannya, maka cukuplah ia menghafal/muraja’ah di dalam hatinya. [6]
Pendapat para ulama mengenai hukum wanita haid membaca al-Qur’an adalah haram…..Masa haid yang berangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Dan jika tetap khawatir lupa pada hafalannya, maka cukuplah ia menghafal/muraja’ah di dalam hatinya. [6]
2. Kitab Asna Al-Mathalib Syarah Raudhatu At-Thalib
Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) menuliskan di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Syarah Raudhatu At-Thalib sebagai berikut :
(لم يحلّ وطؤها) ولا غيره من التّمتّع المحرّم والقراءة ومسّ المصحف ونحوها
Dan tidak di halalkan seorang wanita untuk digauli pada saat haid, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafadzkan Al-Quran serta menyentuhnya. [7]
Dan tidak di halalkan seorang wanita untuk digauli pada saat haid, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafadzkan Al-Quran serta menyentuhnya. [7]
3. Kitab Mughni Al-Muhtaj
Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) menuliskan di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :
وقيل تباح لها القراءة مطلقا خوف النّسيان بخلاف الجنب لقصر زمن الجنابة، وقيل تحرم الزّيادة على الفاتحة في الصّلاة كالجنب الفاقد للطّهورين
Dan ada yang berpendapat: diperbolehkan bagi wanita haid membaca Al-qur’an karena takut akan lupa hafalannya, karena masa haid lebih lama di banding dengan junub. Dan ada juga yang berpendapat : diharamkan wanita haid membaca lebih dari al-Fatihah dalam shalat. [8]
Dan ada yang berpendapat: diperbolehkan bagi wanita haid membaca Al-qur’an karena takut akan lupa hafalannya, karena masa haid lebih lama di banding dengan junub. Dan ada juga yang berpendapat : diharamkan wanita haid membaca lebih dari al-Fatihah dalam shalat. [8]
D. Mazhab Al-Hanabilah
Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :
ولنا: ما روي عن علي، – رضي الله عنه – «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – لم يكن يحجبه، أو قال: يحجزه، عن قراءة القرآن شيء، ليس الجنابة.» رواه أبو داود، والنسائي، والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. وعن ابن عمر، «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن.» رواه أبو داود، والترمذي
Pendapat kami yaitu hadist yang di riwayatkan oleh bin Umar: Bahwasannya Nabi bersabda: Wanita haid dan orang junub berhalangan untuk membaca Al-qur’an. (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi). Hadits Hasan Shahih. Dan Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda: “Wanita haid dan junub tidak boleh membaca apapun dari al-Quran.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi) [9]
Pendapat kami yaitu hadist yang di riwayatkan oleh bin Umar: Bahwasannya Nabi bersabda: Wanita haid dan orang junub berhalangan untuk membaca Al-qur’an. (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi). Hadits Hasan Shahih. Dan Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda: “Wanita haid dan junub tidak boleh membaca apapun dari al-Quran.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi) [9]
E. Mazhab Azh-Zhahiriyah
Ibnu Hazm (w. 456 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :
وقراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى جائز، كلّ ذلك بوضوء وبغير وضوء وللجنب والحائض. برهان ذلك أنّ قراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى أفعال خير مندوب إليها مأجور فاعلها، فمن ادّعى المنع فيها في بعض الأحوال كلّف أن يأتي بالبرهان.
Dan membaca Al-Qur’an, sujud, menyentuh mushaf, dzikir, itu semua boleh (bagi wanita haid). Semua itu boleh dilakukan dengan atau tanpa wudhu’, Dan boleh dilakukan oleh wanita haid maupun orang junub. Alasannya adalah bahwa membaca al-Quran, sujud, menyentuh mushaf dan dzikir adalah perbuatan yang baik, hukumnya sunnah, dan berpahala bagi yang melakukannya. Barang siapa yang melarang wanita haid untuk melakukan itu semua, maka harus disertai alasan. [10]
Dan membaca Al-Qur’an, sujud, menyentuh mushaf, dzikir, itu semua boleh (bagi wanita haid). Semua itu boleh dilakukan dengan atau tanpa wudhu’, Dan boleh dilakukan oleh wanita haid maupun orang junub. Alasannya adalah bahwa membaca al-Quran, sujud, menyentuh mushaf dan dzikir adalah perbuatan yang baik, hukumnya sunnah, dan berpahala bagi yang melakukannya. Barang siapa yang melarang wanita haid untuk melakukan itu semua, maka harus disertai alasan. [10]
F. Fatwa Kontemporer
Di masa kontemporer ini kita menemukan fatwa tentang hal ini, di antaranya :
1. Syeikh Bin Baz
Syeikh Bin Baz (w. 1420 H) yang pernah menjadi mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa lalu di dalam fatwanya juga mengharamkan wanita haidh baca Quran. Dan seandainya dia takut lupa hafalannya, maka cukup membaca dalam hati saja. Berikut petikan fatwa beliau :
والأرجح أنها تقرأ عن ظهر قلب؛ لأنها قد تنساه وقد تطول المدة.
Yang lebih rajih wanita haidh itu baca Quran dalam hati saja, biar tidak lupa karena terlalu lama haidhnya. [11]
Yang lebih rajih wanita haidh itu baca Quran dalam hati saja, biar tidak lupa karena terlalu lama haidhnya. [11]
2. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) yang pernah menjadi mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa lalu ketika ditanya tentang masalah wanita haidh apakah boleh membaca Al-Quran dan melafadzkannya, beliau menjawab :
وأما قراءة القرآن للحائض فإنه لا بأس بها إذا كان المقصود التعليم أو التعلم أو أوراد الصباح أو المساء وأما إذا كان قصد الحائض من قراءة القرآن التعبد بذلك فإن فيه خلاف بين العلماء فمنهم من يجيزه ومنهم من لا يجيزه والاحتياط ألا تقرأ للتعبد لأنها إذا قرأت للتعبد دار الأمر بين أن تكون آثمة أو مأجورة ومعلوم أن من الورع أن يترك الإنسان ما يريبه إلى ما لا يريبه
Sedangkan membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh tidak mengapa, asalkan maksudnya untuk mengajar atau belajar, atau dengan niat membaca wirid (dzikir) pagi dan petang. Namun bila niatnya semata-mata untuk beribadah, maka para ulama berbeda pendapat dalam hukumnya. Sebagian membolehkan dan sebagian tidak membolehkan. Namun demi kehati-hatian jangan baca untuk tujuan beribadah, sebab ada dua kemungkinan antara berdosa atau berpahala. Dan sudah jadi maklum untuk kita bersifak wara’ (berhati-hati) dengan meninggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan. [11]
Sedangkan membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh tidak mengapa, asalkan maksudnya untuk mengajar atau belajar, atau dengan niat membaca wirid (dzikir) pagi dan petang. Namun bila niatnya semata-mata untuk beribadah, maka para ulama berbeda pendapat dalam hukumnya. Sebagian membolehkan dan sebagian tidak membolehkan. Namun demi kehati-hatian jangan baca untuk tujuan beribadah, sebab ada dua kemungkinan antara berdosa atau berpahala. Dan sudah jadi maklum untuk kita bersifak wara’ (berhati-hati) dengan meninggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan. [11]
Catatan :
1. Mayoritas ulama sepakat mengharamkan wanita haidh melafadzkan Al-Quran dengan lisan, baik dengan suara lirih atau pun suara keras, hukumnya tetap haram. Namun bila bukan dengan lisan, hukumnya boleh, misalnya
a. Dalam Hati : Ayat Quran hanya dibatin dalam hati tanpa menggerakkan lidah, hukumnya boleh
b. Mendengar : Mendengarkan bacaan atau alunan ayat-ayat suci Al-Quran, hukumnya boleh.
c. Terjemah : Melafadzkan terjemahan Al-Quran dan bukan lafadz Arabnya, hukumnya boleh.
d. Doa dan Dzikir : Membaca doa dan dzikir yang diiqtibas dari ayat Al-Quran, asalkan tidak diniatkan membaca Al-Quran, tetapi hanya sebatas doa atau dzikir, hukumnya juga dibolehkan.
2. Dasar keharamannya adalah hadits-hadits yang melarang orang yang sedang berjanabah untuk melafadzkan Al-Quran, sedangkan wanita yang haidh termasuk ke dalam hitungan orang yang sedang berjanabah.
3. Namun ada satu dua ulama yang membolehkan wanita haidh melafadzkan Al-Quran, dengan beberapa alasan, diantaranya :
a. Haidh Beda Dengan Janabah : Menurut pandangan mereka bahwa wanita haidh tidak termasuk orang yang berjanabah. Sehingga tidak termasuk yang dilarang melafadzkan Al-Quran.
b. Darurat : Bagi wanita yang sedang menghafalkan Al-Quran, bila tidak membaca dikhawatirkan nanti lupa hafalannya. Sehingga dibolehkan karena darurat.
Wallahu ‘alam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.,MA.(Rumah Fiqih Indonesia.Com)
Siapakah yang Berhak Mengambil Hukum Langsung Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ? Galih Maulana, Lc ,,, 2017
Sebagai seorang Muslim tentu saja harus menyandarkan segala gerak-gerik perbuatan dalam hidupnya kepada al-Qur’an dan sunah- sunah Nabi yang merupakan undang-undang dan sumber hukum dalam agama Islam.
Dalam sebuah hadits, Nabi berpesan agar kita, sebagai umatnya senantiasa berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah agar tidak tersesat dalam kehidupan ini, beliau ﷺ bersabda:
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه[1]
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, al-Qur’an dan as-Sunnah”
Berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah maksudnya melaksanakan segala sesuatu dalam hidup ini berdasarkan kepada aturan dan ketentuan yang ditetapkan dan dijelaskn oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.
Namun, dalam aplikasinya ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, karena walaupun kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia bersifat absolut, tetapi petunjuk atau maksud yang ingin disampaikan terkadang berbeda dengan teks dhohirnya. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadi banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam satu masalah, padahal semuanya merujuk kepada ayat atau hadits yang sama.
Apabila semua orang dibiarkan mengambil hukum langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah tentu ini akan menyebabkan kekacauan dan kesemerawutan dalam beragama, setiap orang bebas menafsirkan al-Qur’an sekehendak hati dan sebatas pengetahuannya saja, hingga nanti pada puncaknya, setiap orang punya kebenaran versi masing-masing.
Lalu pertanyaannya, siapa yang berhak dan punya otoritas untuk menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah?
Mujtahid Mutlak
Orang yang berhak menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah orang yang sudah menguasai semua pengetahuan yang berkaitan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah serta semua perangkat istinbath (analisa) yang digunakan untuk memahami maksud dari syari’at.
Orang yang sudah mencapai level tersebut disebut sebagai Mujtahid, namun ternyata, mujtahid juga ada levelnya, hanya mujtahid level tertinggi saja yang mampu mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa terikat kaidah dan standar dari mujtahid lain. Dialah yang berhak mengatakan: “ini sesuai al-Qur’an menurut pendapat saya”.
Syekh Wahbah az-Zuahaili (w 1436 H) dalam kitabnya menyebutkan beberapa tingkatan mujtahid[2] :
Mujtahid mutlak mustaqil
Mujtahid mutlak ghoiru mustaqil (mujtahid muntasib)
Mujtahid muqoyyad
Mujtahid fatwa dan tarjih
Mujtahid fatwa (mufti) madzhab
Tingkatan mujtahid ini juga disebutkan oleh Imam Nawawi (w 676 H) dalam al-Majmu’[3], beliau -rohimahullah- juga menjelaskan sifat-sifat dan syarat-syarat para mujtahid tiap tingkatnya.
Mujtahid mutlak ghoiru mustaqil (mujtahid muntasib)
Mujtahid muqoyyad
Mujtahid fatwa dan tarjih
Mujtahid fatwa (mufti) madzhab
Tingkatan mujtahid ini juga disebutkan oleh Imam Nawawi (w 676 H) dalam al-Majmu’[3], beliau -rohimahullah- juga menjelaskan sifat-sifat dan syarat-syarat para mujtahid tiap tingkatnya.
Syarat Mujtahid Mutlak
Untuk bisa mencapai level Mujtahid mutlak, seseorang harus memenuhi berbagai syarat yang begitu berat, Imam Nawawi bahkan sampai mengatakan bahwa sudah begitu lama tidak ada Mujtahid mutlak mustaqil, tentu itu karena beratnya syarat yang harus dipenuhi, sehingga jarang sekali yang mencapai level tersebut, beliau mengatakan:
ومن دهر طويل عدم المفتي المستقل وصارت الفتوى إلى المنتسبين إلى أئمة المذاهب المتبوعة[4]
“Dan sudah sekian lama tidak ada mufti (mujtahid) mustaqil, sehingga fatwa hanya berada ditangan para mujtahid muntasib”
Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar berhak menjadi Mujtahid mutlak mustaqil adalah sebagai berikut:
1. Islam
Beragama Islam adalah syarat mutlak bagi seorang mujtahid, orang kafir tidak akan diambil fatwanya meski seandainya dia menguasai semua dalil-dalil agama dan mampu beristinbath.
2. Berakal
Fatwanya orang yang tidak berakal alias gila tidak akan diambil, walaupun seandainya orang gila ini dahulunya seorang mujtahid, karena ketika dia kehilangan akalnya, tidak ada filter atau timbangan untuk membedakan antara benar dan salah.
3. Baligh
Seorang anak yang belum baligh walau seandainya sudah mencapai derajat mujtahid, tidak diterima hasil ijtihadnya, karena belum sempurnanya kemampuan akal, yang mana dengan kesempurnaan akal itu merupakan alat untuk mecari dan membedakan benar dan salah.
4. Adil
Sesorang dikatakan adil apabila meninggalkan semua dosa besar, kemudian apabila melakukan dosa kecil dia tida melakukannya lagi dan tidak melakukan hal-hal yang mengurangi kewibawaan. Sebenarnya adil bukan syarat untuk mencapai derajat mujtahid, adil adalah syarat agar hasil ijtihadnya diterima[5].
5. Fiqh an-Nafs
Fiqh an-nafs maksudnya adalah dimana seseorang telah menguasai dan memahami semua nash-nash syar’i, mampu menghadirkannya dengan cepat ketika dibutuhkan, mampu menganalisa setiap detail-detail nash serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap masalah dikehidupan nyata.
Fiqh an-nafs ini merupakan bakat yang merupakan anugrah dari Allah, sehingga tidak setiap orang mampu menguasainya, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Imam al-Haromain (w 478 H) mengatakan:
ثم يشترط وراء ذلك كله فقه النفس فهو رأس مال المجتهد – ولا يتأتى كسبه – فإن جبل على ذلك فهو المراد، وإلا فلا يتأتى تحصيله بحفظ الكتب[6]
“kemudian disamping syarat yang sudah disebutkan, disyaratkan pula fiqh an-nafs yang merupakan modal pokok seorang mujtahid, dan fiqh an-nafs ini tidak bisa diusahakan (untuk mendapatkannya), apabila seseorang sudah mempunyai sifat tersebut (secara alami) maka itulah yang diharapkan, tetapi apabila tidak berbakat (secara alami) maka tidak bisa mendapatkannya walau dengan menghafal kitab-kitab.”
6. Memiiki ilmu tentang al-Qur’an
Memiki pengetahuan tentang al-Qur’an tidak cukup hanya sebatas mampu membaca dan memahami maknanya secara ijmal (global) saja, tetapi lebih dari itu dia mampu medapat ilmu sacara hakiki dari bacaannya tersebut, mampu mentadaburinya, mampu menganalisa dan menggali hukum darinya. Untuk mencapai hal tersebut, seorang mujtahid harus mengetahui beberapa ilmu tentang al-Qur’an, diantaranya:
Nasikh wa mansukh
Diharuskan bagi seorang mujtahid untuk mengetahui ayat-ayat yang mansukh, sehingga dia mengamalkan yang nasikh, untuk mengetahui nasikh mansukh jelas harus tau sejarah turunnya ayat, kapan ayat ini turun, kapan ayat itu turun, harus tau juga aturan dan syarat-syarat dalam nasikh wa mansukh, jenis-jenisnya dan semua hal yang berkaitan dengan nasikh wa mansukh.
Diharuskan bagi seorang mujtahid untuk mengetahui ayat-ayat yang mansukh, sehingga dia mengamalkan yang nasikh, untuk mengetahui nasikh mansukh jelas harus tau sejarah turunnya ayat, kapan ayat ini turun, kapan ayat itu turun, harus tau juga aturan dan syarat-syarat dalam nasikh wa mansukh, jenis-jenisnya dan semua hal yang berkaitan dengan nasikh wa mansukh.
Al-Am wa al-Khos
Seorang mujtahid harus tau mana ayat yang bersifat ‘am (umum) mana ayat yang bersifat khos (khusus), mana ayat yang ‘am tapi maksudnya khos, bagaimana aturan takhsis al-‘am, syarat-syaratnya dan semua hal yang berkaitan dengan al-am wa al-khos.
Seorang mujtahid harus tau mana ayat yang bersifat ‘am (umum) mana ayat yang bersifat khos (khusus), mana ayat yang ‘am tapi maksudnya khos, bagaimana aturan takhsis al-‘am, syarat-syaratnya dan semua hal yang berkaitan dengan al-am wa al-khos.
Al-Muthlak wa al-Muqoyyad
Seperti al-am wa al-khos, seorang mujtahid juga harus tau mana ayat yang mutlak mana ayat yang terikat (muqoyyad) bagaimana menggabungkan mutlak dan muqoyyad, aturan dan syarat-syaratnya.
Seperti al-am wa al-khos, seorang mujtahid juga harus tau mana ayat yang mutlak mana ayat yang terikat (muqoyyad) bagaimana menggabungkan mutlak dan muqoyyad, aturan dan syarat-syaratnya.
Asbab an-Nuzul
Mengetahui asbab an-nuzul bertujuan agar seorang mujtahid tau bagaimana konteks ayat tersebut turun, mengerti maksud dan kondisi serta pengamalan akan ayat tersebut dalam konteks yang berbeda.
Mengetahui asbab an-nuzul bertujuan agar seorang mujtahid tau bagaimana konteks ayat tersebut turun, mengerti maksud dan kondisi serta pengamalan akan ayat tersebut dalam konteks yang berbeda.
Lain-lain
Seperti mengetahui ayat dhohir dan ayat mu’awal, ayat mujmal dan ayat mubayyan, mana surat makki mana surat madani, yang mana penegtahuan tersebut akan mempengaruhi kedetailan hukum.
Seperti mengetahui ayat dhohir dan ayat mu’awal, ayat mujmal dan ayat mubayyan, mana surat makki mana surat madani, yang mana penegtahuan tersebut akan mempengaruhi kedetailan hukum.
7. Memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah
Memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah tidak hanya terbatas pada tau cara membaca hadits dan memahami artinya secara ijmal, tetapi harus tau juga hal-hal yang sama pada al-Qur’an seperti nasikh mansukh, al-am wa al-muqoyyad al-muthlak wa al-muqoyyad, asbabu al-wurud dan lainnya.
Termasuk syarat bagi mujtahid mengtahui semua jenis dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan as-Sunnah, diantaranya:
Hadits mutawatir dan hadits ahad
Posisinya diantara hadits yang lain, syarat-syaratnya dan konskwensi hukum apa yang terjadi.
Posisinya diantara hadits yang lain, syarat-syaratnya dan konskwensi hukum apa yang terjadi.
Hadits shohih dan dho’if
Seorang mujtahid harus tau posisi hadits, apakah shohih atau hasan atau dho’if, tau cara memakainya, syarat-syaratnya, dhobit-dhobitnya, dan segala hal yang berkaitan tentang diterima atau tidaknya suatu hadits dalam menetapkan hukum, baik itu pembahasan dalam mustholah hadits atau dalam ushul fiqh.
Seorang mujtahid harus tau posisi hadits, apakah shohih atau hasan atau dho’if, tau cara memakainya, syarat-syaratnya, dhobit-dhobitnya, dan segala hal yang berkaitan tentang diterima atau tidaknya suatu hadits dalam menetapkan hukum, baik itu pembahasan dalam mustholah hadits atau dalam ushul fiqh.
At-Tarikh wa ar-Rijal
Seorang mujtahid harus tau apa yang dibutuhkan dari sejarah periwayatan, kondisi para rowi (periwayat hadits), apakah rowi ini adil atau tidak, dipercaya atau tidak, pertemuan rowi dengan gurunya, dan bagaimana rowi menerima hadits dari gurunya, ini semua untuk mengetahui status hadits, apakah shohih atau dho’if, apakah muttashil atau munqothi’ dan selainnya yang berhubungan dengan sanad.
Seorang mujtahid harus tau apa yang dibutuhkan dari sejarah periwayatan, kondisi para rowi (periwayat hadits), apakah rowi ini adil atau tidak, dipercaya atau tidak, pertemuan rowi dengan gurunya, dan bagaimana rowi menerima hadits dari gurunya, ini semua untuk mengetahui status hadits, apakah shohih atau dho’if, apakah muttashil atau munqothi’ dan selainnya yang berhubungan dengan sanad.
Asbab aj-jarh wa at-ta’dil
Begitu juga seorang mujtahid harus tau sebab-sebab seorang rowi itu di-tajrih, bagaimana standarnya (dhobitnya), jenis-jenisnya, kapan jarh itu dianggap dan kapan tidak dianggap dalam takhrij hadits, itu semua diperlukan untuk menentukan apakah hadits itu diterima atau tidak dalam pendalilan sebuah hukum.
Begitu juga seorang mujtahid harus tau sebab-sebab seorang rowi itu di-tajrih, bagaimana standarnya (dhobitnya), jenis-jenisnya, kapan jarh itu dianggap dan kapan tidak dianggap dalam takhrij hadits, itu semua diperlukan untuk menentukan apakah hadits itu diterima atau tidak dalam pendalilan sebuah hukum.
Syadz, mahfudz, munkar dan ilal al-hadits
Imam al-Haromain (w 478 H) berkata:
Imam al-Haromain (w 478 H) berkata:
والثالثة معرفة السنن، فهي القاعدة الكبرى ; فإن معظم أصول التكاليف متلقى من أقوال الرسول ﷺ وأفعاله وفنون أحواله، ومعظم آي الكتاب لا يستقل دون بيان الرسول ثم لا يتقرر الاستقلال بالسنن إلا بالتبحر في معرفة الرجال، والعلم بالصحيح من الأخبار والسقيم، وأسباب الجرح والتعديل، وما عليه التعويل في صفات الأثبات من الرواة والثقات، والمسند والمرسل، والتواريخ التي تترتب عليها استبانة الناسخ والمنسوخ[7]
“yang ketiga adalah pengetahuan tentang sunah-sunah Nabi, yang merupakan kaidah kubro, karena sebagian besar dalil taklif diperoleh dari ucapan-ucapan Rosul, perbuatan-perbuatannya dan keadaan-keadaannya. Dan sebagian ayat al-Qur’an tidak terlepas dari penjelasan Rosul, kemudian untuk memastikan kebenaran sebuah hadits harus ditempuh dengan mendalami pengetahuan tentang para rowi, mengetahui khobar Nabi apakah shoih atau tidak, tau sebab-sebab jarh wa ta’dil, dan apa-apa yang mempengaruhi kepastian suatu hadits dari keadaan setiap rowi dan kredibilitasnya, tau musnad dan mursal, tau sejarah wurudnya hadits sehingga dia tau hadits-hadits yang nasikh dan yang mansukh”
8. Memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab
Seorang mujtahid wajib memahami dan menguasai bahasa arab, kaidah-kaidahnya, tarkib-tarkibnya dan lain-lain, itu semua karena al-Qur’an dan Hadits Nabi sebagai sumber hukum Islam menggunakan bahasa Arab.
Untuk mampu memahmi dan menganalisa maksud baik yang tersurat maupun tersurat dalam bahasa Arab, seorang mujtahid harus menguasai hal-hal dibawah ini;
Matan al-lughoh
Matan al-lughoh (متن اللغة) maksudnya adalah mengetahui dengan benar makna-makna setiap kosa kata bahasa Arab, ada yang bersifat murodif, musytarok dan sebagainya.
Matan al-lughoh (متن اللغة) maksudnya adalah mengetahui dengan benar makna-makna setiap kosa kata bahasa Arab, ada yang bersifat murodif, musytarok dan sebagainya.
Nahwu
Dengan nahwu seorang mujtahid mengetahui struktur sebuah kalimat, sehingga mamudahkan dalam memahami maksud suatu kalam (ucapan)
Dengan nahwu seorang mujtahid mengetahui struktur sebuah kalimat, sehingga mamudahkan dalam memahami maksud suatu kalam (ucapan)
Shorf
Dengan shorf seorang mujtahid mengetahui bagaimana suatu kata/kalimat terbentuk, tau mengapa suatu huruf bertukar, bertambah atau berkurang dan selainnya.
Dengan shorf seorang mujtahid mengetahui bagaimana suatu kata/kalimat terbentuk, tau mengapa suatu huruf bertukar, bertambah atau berkurang dan selainnya.
Balaghoh
Dengan balaghoh seorang mujtahid dapat mengetahui suatu kalimat apakah itu sebuah kinayah, atau majaz, apakah itu khobar atau insya dan lain-lain, yang pada intinya, membantu seorang mujtahid dalam memahami maksud yang ingin disampaikan dalam bahasa Arab yang begitu luas, indah dan dalam.
Dengan balaghoh seorang mujtahid dapat mengetahui suatu kalimat apakah itu sebuah kinayah, atau majaz, apakah itu khobar atau insya dan lain-lain, yang pada intinya, membantu seorang mujtahid dalam memahami maksud yang ingin disampaikan dalam bahasa Arab yang begitu luas, indah dan dalam.
Imam al-Haromain mengatakan dalam kitabnya:
وينبغي أن يكون المفتي عالماً باللغة، فان الشريعة عربية، وإنما يفهَمُ أصولها من الكتاب والسنة من يعرف لغة العرب[8]
“Dan sudah selayaknya bagi seorang mufti (mujtahid) mengetahui bahasa Arab, karena syari’at Islam menggunakan bahasa Arab, dan bahwasanya dipahami dalil-dalil syariat itu oleh orang-orang yang paham bahasa Arab”
Namun bukan syarat seorang mujtahid untuk menguasai bahasa Arab secara keseluruhan, karena itu hal yang hampir mustahil, Imam Syafi’i (w 204 H) mengatakan:
ولسان العرب أوسع الألسنة مذهباً، وأكثرها ألفاظاً، ولا نعلمه يحيط بجميع علم إنسان غير نبي[9]
“Dan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling luas (cangkupan maknanya), paling banyak kosakatanya, dan kami tidak tahu ada seorang pun yang menguasai secara keseluruhan selain seorang Nabi”
Tetapi yang dimaksud menguasai disini adalah kemampuan untuk memahami bahasa Arab, gaya bahasanya, cara penggunaanya dan sebagainya, yang mana membantu seorang mujtahid untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.
9. Mengetahui masalah-masalah Ijma’
Wajib hukumnya seorang mujtahid mengetahui masalah-masalah yang sudah di-Ijma’kan, sehingga dia tidak berfatwa dalam suatu masalah menyelisihi apa yang sudah di-Ijma’kan. Seorang mujtahid juga harus mengetahui jenis-jenis Ijma, dan ketentuan-ketentuannya.
10. Mengetahui madzhab-madzhab ulama dalam masalah-masalah khilaf
Seorang mujtahid juga harus mengetahui madzhab-madzhab atau pemikiran-pemikiran ulama mutaqodimin, serta mengetahui pendapat-pendapat para salaf, agar dia mendapat cahaya dengan cahaya keilmuan ulama terdahulu, juga agar dia mendapat faidah dari pemikiran dan akal-akal para pendahulunya.
Imam Syafi’i berkata :
ولا يكون لأحد أن يقيس حتى يكون عالماً بما مضى قبله من السنن، وأقاويل السلف، وإجماع الناس، واختلافهم[10]
“dan tidak boleh seseorang berijtihad sampai dia mengetahu apa yang sudah berlalu, dari mulai sunah-sunah Nabi, ucapan-ucapan salaf (ulama terdahulu), ijma para ulama dan perselisihan mereka”.
11. Mengetahui ilmu Ushul fiqh
Diantara hal yang harus dikuasai seorang mujtahid bahkan yang terpenting adalah menguasai ushul fiqh, karena ushul fiqh merupakan asas dalam berijtihad, dengan ushul fiqh seorang mujtahid mampu menerapkan dalil pada madlul (objek dalil)nya dengan benar, dan mampu meng-istibath hukum dari dalil dengan benar.
Selain syarat-syarat di atas yang begitu berat, ada hal lain juga yang harus diperhatikan oleh seorang mujtahid, diantaranya adalah sikap waro’ atau berhati-hati dalam segala hal yang terindikasi kurang baik, terkenal dengan sikap taat beragama, dan sebagainya.
Imam Nawawi (w 676 H) -rohimahullah- berkata:
وينبغي أن يكون المفتي ظاهر الورع مشورا بالديانة الظاهرة والصيانة الباهرة
“Dan selayaknya seorang mufti itu harus memiliki sikap wara’, menampakkan sikap-sikap religius, dan mejaga penampilan yang elok”
Selain sikap-sikap di atas, di antara hal yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid adalah rasa takut kepada Allah, takut kelak mempertanggungjawabkan fatwa-fatwanya di hadapan Allah ﷻ, Imam Malik (w 179 H) berkata:
من أجاب في مسألة فينبغي قبل الجواب أن يعرض نفسه على الجنة والنار وكيف خلاصه ثم يجيب
“Barangsiapa yang ingn menjawab suatu masalah (berfatwa) hendaklah dia mengajukan pada dirinya surga dan neraka, dan bagaimana dia terlepas dari neraka itu, barulah dia menjawab”
Pintu ijtihad memang masih terbuka, dan barangsiapa hendak menggali hukum langsung dari al-Qur’an, hendaklah dia sematkan atau deklarasikan dirinya sebagai mujtahid mutlak, dan supaya sah menjadi mujtahid mutlak hendaklah dipenuki syarat-syaratnya.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan sebuah kata penuh hikmah yang terucap dari lisan orang yang mulia, Umar bin Abdul Aziz:
رحم الله امرئ عرف قدر نفسه
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menyadari kapasitas dirinya”
Juga ucapan seorang Mujtahid mutlak, guru dari Mujtahid mutlak dan seorang Imam madzhab, Malik bin Anas, beliau berkata:
ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك
“Aku tidak berfatwa sampai aku mendapat persaksian dari tujuh puluh orang (yang adil) bahwa aku memang sudah ahlinya”.(Rumah Fiqih Indonesia.Com)
[1] HR. Malik
[2] Al-Fiqhu al-Islami wa adillatuhu (1/62-63)
[3] Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (1/42-45)
[4] Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (1/43)
[5] Al-Mustashfa (1/342)
[6] Al-Burhan Fi Ushul al-Fiqh (2/1332)
[7] Al-Ghiyatsi (1/400)
[8] Al-Burhan (2/1330)
[9] Ar-Risalah, hal. 138
[10] Ar-Risalah, hal. 1449
Langganan:
Komentar (Atom)